Kamis, 31 Mei 2012

Prasangka Baik pada Bangsa dan Negara

Menyempatkan diri untuk sedikit lama di depan televisi, menyimak berita tentang apa saja yang terjadi di negeri ini, dari berita politik, hukum, budaya, ekonomi sampai dengan olah raga dan selebriti, membuat saya menjadi kecil hati dan sedikit demotivasi. Berita politik yang mengabarkan gegap-gempita politisi dengan nafsu politik dan prilaku serakah korupsinya. Cerita hukum yang selalu memojokkan rakyat kecil yang tak punya kuasa, paradoks dengan kongkalikong penguasa dan orang kaya yang mempu membeli sengketa dari para hakim, jaksa dan polisi, yang memang sudah tenggelam dalam samudera korupsi. Budaya yang tercipta bukan lagi representasi keluhuran budi dan tingginya daya kreasi, tetapi kini berubah orientasi berupa inovasi korupsi dan drama-drama konflik sosial hampir disemua segmen masyarakat.

Sementara di jagad ekonomi nasional tak habis-habisnya dituturkan cerita sedih kelompok dhuafa bangsa ini, mereka yang tidak diterima dan diusir dari rumah-rumah sakit, sementara tata-kelola uang rakyat dihamburkan bagi kelompok kaya yang berteriak karena tumpukan harta mereka pertambahannya menurun. Sedangkan dunia olah raga dimeriahkan dengan perseteruan antara pengurus, tata-kelola dan pembinaan yang tak jelas serta pengadaan fasilitas dan prasarana yang menjadi objek pungli dan korupsi. Di dunia selebriti, tak habis-habis cerita aib seseorang, dari pribadinya sampai keluarganya, di eksplorasi dalam kemasan industri.

Melihat dan mendapatkan berita seperti itu bukannya mencerahkan apalagi membangkitkan semangat hidup dan motivasi kerja, tetapi membuat semakin suntuk, bad-mood untuk melakukan apa saja. Namun, apakah seperti itu bangsa ini? Apa mungkin kesan itu hanya salah bangsa ini dalam bercerita dan berbagi berita? Jangan-jangan perasaan pesimis, pandangan skeptik dan prasangka buruk terhadap bangsa sendiri yang telah begitu kronisnya, yang menjadi masalah utama bangsa ini?

Bukankah bangsa dan negara Indonesia ini begitu besarnya, melimpah anugerah Tuhan berupa kekayaan alam diberikan hampir di setiap pulau yang berbaris dari ujung Sabang hingga pulau Papua. Lautan, selat, dan sungai pun tak kalah kayanya. Tak mampukah itu semua membuat kita sembuh dari penyakit kronis tadi? Apalagi kini, ekonomi berjalan lebih baik dari yang sudah-sudah, pencapaian kesejahteraan boleh dikatakan terbaik dalam sejarah bangsa ini. Mengapa ini belum dapat menjadi momentum untuk menjadi bangsa yang penuh optimis, saling menyemangati, saling membantu, saling menasehati dan saling menjaga.

Mungkin generasi yang ada belum menyadari ini atau mungkin belum siap menjadi bangsa yang dominan dan besar untuk diteladani. Potensi besar bangsa belum diikuti kebesaran jiwa bangsanya untuk menjadi negara yang pantas untuk ditonton dan dipanuti. Sekian lama bangsa ini hanya menjadi penonton dan terbiasa mengekor bangsa lain.

Kalau seperti itu, mungkin sudah waktunya kita bangkitkan generasi yang memiliki jiwa yang berbeda. Generasi yang menatap positif dan optimis masa depannya, berjiwa besar untuk siap menjadi generasi yang mengantarkan bangsanya menjadi bangsa yang dihormati dan diteladani. Melihat setiap kelemahan yang ada pada rakyat dan semua yang ada di dekatnya sebagai sebuah kesempatan baginya untuk berbuat baik dan menumpuk kebaikan. Tidak ada gelisah, cemas atau khawatir, karena generasi ini yakin bahwa setiap langkahnya selalu dibantu Sang Kuasa. Kegagalan dan keberhasilan dipercayai sebagai satu set skenario baik dari Tuhan. Musibah dan bencana hanyalah bagian dari “perhatian” Tuhan untuk mendidik diri mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Kesalahan dan kealpaan tidak menyurutkan semangat atau bahkan menghentikan langkah mereka, karena mereka sangat sadar kalau itu menjadi kefitrahan yang setiap waktu harus diperbaiki.

EKONOMI ISLAM DAN HIKMAH

Semakin Dekat..

Selepas acara Workshop OIC member countries (hari pertama saya dinas di Istanbul – Turkey), saya dan Mr. Jahangir Alam makan siang bersama. Mr. Alam adalah seorang Executive Director dari Central Bank of Bangladesh. Beliau merupakan teman yang selalu bersama saya sepanjang acara di Swissotel, baik di acara OIC maupun IFSB. Mr. Alam hanya seorang diri, tidak ada kolega lain yang hadir dari Bangladesh pada kedua acara itu, kecuali Dr. Jaseem Ahmed yang merupakan Secretary General of IFSB. Antusias kami diskusi tentang praktek keuangan mikro Islam di dunia, di Bangladesh dan Indonesia. Pada diskusi itu saya banyak menggali praktek di Bangladesh. Dari beliau saya tahu meski pelaku atau institusi keuangan mikro masih sedikit di Bangladesh tetapi otoritas tersendiri untuk industri keuangan mikro tersebut sudah berdiri. Namun Grameen Bank sebagai pelopor praktek keuangan mikro tidak masuk dalam ruang lingkup pengaturan oleh otoritas ini. Sepertinya sebagai pelopor Grameen mendapat prevelages dalam sektor keuangan Bangladesh.


Kami juga diskusi beberapa isu “remeh” terkait Grameen sebagai trend setter dalam praktek keuangan mikro dunia. Salah satunya isu banyaknya ibu-ibu sebagai nasabah Grameen yang konon khabarnya bercerai dari para suami mereka lantaran merasa mandiri dengan usaha mereka yang didanai oleh Grameen. Mr. Jahangir Alam membantah keras isu tersebut, namun mengetahui banyak sekali isu-isu seperti itu sebagai kampanye negatif terhadap Grameen sebagai institusi pelopor dan sukses dalam membantu masyarakat kecil di Bangladesh.


Sebaliknya Mr. Alam antusias mendengarkan betapa marak dan banyaknya institusi keuangan mikro khususnya yang syariah dalam melayani masyarakat kecil di Indonesia. Meski sama-sama bekerja di bank sentral kami memiliki kepedulian yang sama dalam memandang praktek keuangan mikro syariah. tantangan yang muncul dalam praktek keuangan mikro antara Bangladesh dan Indonesia relatif sama, seperti kurangnya dukungan politik, birokrasi yang panjang dan rumit serta jangkauan yang belum melayani semua masyarakat kecil. Pada hari selanjutnya kami sama-sama menjadi pembicara dalam IFSB special session on Islamic Microfinance. Saya menjadi pembicara pada sesi pertama bersama Dr. Azmi Omar (General Director of IRTI-IDB), sedangkan beliau menjadi pembicara pada sesi kedua bersama Michael Tarazi dari GTZ dan Dr. Mohamed Khair Ahmed Elzubaer (Governor) dari Central Bank of Sudan.


Hari kedua IFSB Summit di Swissotel Bosphorus, Istanbul – Turki atau hari keempat saya di Istanbul, pagi itu seperti biasa saya jalan kaki dari penginapan dan setelah 20-25 menit saya sampai di lobby Swissotel Bosphorus. Karena acara belum dimulai saya bersama rekan-rekan Bank Indonesia yang lain berbincang-bincang di sofa lobby hotel. Tidak lama saya lihat Mr. Jahangir Alam masuk ke lobby dan menyapa saya. Ada yang berbeda saya lihat dari Mr. Jahangir Alam pagi itu, beliau terlihat tidak bugar dan wajahnya pucat. Tak lama beliau mengajak saya untuk menuju Hall tempat acara berlangsung. Saya katakan padanya kalau dia tampak pucat. Beliau mengaku merasa tidak enak badan sejak pagi tadi. Dan beliau juga mengatakan belum sarapan. Menuju Hall saat menuruni tangga, entah kenapa Mr. Alam memegang tangan saya, tangan beliau dingin. Tapi saya tidak ingin berprasangka apa-apa, mungkin beliau merasa akrab saja. Sampai di depan Hall, karena coffee break sudah disiapkan, saya ajak beliau untuk makan dulu, khawatir nanti beliau tambah sakit. Apalagi coffee break yang disiapkan selalu cukup untuk sarapan, karena penuh dengan sajian beragam roti.


Hari kedua IFSB Summit itu hanya setengah hari, selesai acara saya menuju ruang makan siang. Mr. Jahangir Alam sudah duduk siap menyantap makan siangnya, dia mengajak saya untuk duduk disebelahnya, tapi saya katakan saya ingin makan dengan teman-teman Indonesia, karena memang kami ada rencana mengunjungi grand bazaar di pusat kota Istanbul lepas acara IFSB ini. Setelah makan Mr. Alam mendekati meja saya dan berpamitan, beliau tidak ikut rombongan IFSB yang akan mengadakan tour di selat Bosphorus. Beliau sebelumnya meminta agar saya mengirimkan email softfile materi presentasi saya. Saya pun pamit padanya dan mengucapkan semoga selamat sampai tujuan.


Tak lama kami rombongan Indonesia meninggalkan ruang makan menuju lobby untuk bergabung dengan rombongan IFSB yang akan menuju selat Bosphorus. Betapa kagetnya saya karena ketika melewati sofa tempat biasa peserta IFS meeting istirahat, saya melihat Mr. Jahangir Alam diturunkan dari sofa ke lantai dan kemudian diberikan bantuan pernapasan, dadanya dipompa. Terlihat semua dilantai itu panik, dari tenaga medis, panitia, pegawai hotel sampai teman-teman partisipan yang lain. Saya dan teman-teman Indonesia sama-sama berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Saya tidak beranjak menuju lobby, saya ingin disitu melihat bagaimana perkembangan Mr. Alam. Kurang lebih 30 menit, tenaga medis memberikan pertolongan sekeras mungkin, pompa jantung, alat kejut jantung, bantuan pernapasan, tabung oksigen. Akhirnya, Mr. Alam meninggal dunia.

Satu lagi peringatan dari sekian peringatan Tuhan untuk saya, bahwa giliran saya semakin dekat, karena kematian semakin hari semakin tertuju pada orang-orang yang dekat dengan saya, dan satu saat akan sampai pada saya.